life is a [lot of] related coincidences, isn't it ?

".. bahwa tak ada satu hal pun yang pernah benar-benar tinggal. Hidup merengkuh apa saja yang datang dan dengan ikhlas melepaskannya saat mereka merasa terlalu erat dalam dekapan .."

Sunday, April 10, 2005

ganyang malaysiaaaaaaa !!!

panasssssss gw ngebaca berita ini !! shit !! mereka pikir mereka tu sapa ??!! enak aj masuk wilayah negara laen tanpa izin .. pake manuver nabrak kapal perang lagi !!


Kapal Malaysia Tabrak KRI

SBY Inginkan Penyelesaian Damai
TARAKAN - Kesabaran para prajurit TNI-AL yang berpatroli di Perairan Ambalat benar-benar diuji. Meski armada tempur Malaysia secara terbuka bermanuver dengan sengaja menabrak KRI Tedung Naga, pasukan TNI masih sabar untuk tidak membalasnya.

Jumat pagi lalu, Kapal Diraja Malaysia (KDM) Rencong melakukan tindakan yang sempat memanaskan situasi laut kaya minyak di Perairan Kaltim tersebut. KDM Rencong secara sengaja memasuki wilayah Indonesia serta mendekati proyek mercusuar Karang Unarang.

Menyaksikan manuver kapal perang Malaysia yang tinggal beberapa ratus meter dari Karang Unarang tersebut, KRI Tedung Naga yang sedang berpatroli berusaha menghalanginya.

Akibatnya, KDM Rencong langsung menabrak KRI Tedung Naga. Kedua pihak langsung bersiaga. Tak ada yang berani meletuskan tembakan. Walaupun tak ada letusan meriam, tabrakan antar kedua kapal perang tersebut merupakan yang pertama terjadi sejak situasi Perairan Ambalat yang sama-sama diklaim kedua negara memanas.

Komandan Gugus Tempur Laut RI Armada Timur (Guspurla Armatim) Laksamana Pertama Soeparno menjelaskan, tabrakan itu terjadi sekitar pukul 06.55 Wita. "Kapal tersebut (kapal Malaysia) berusaha mendekati Karang Unarang," ungkapnya dalam jumpa pers di atas KRI Karel Satsuit Tubun (KST) kemarin sore.

Aksi KDM Rencong yang menabrak KRI Tedung Naga tersebut hanya berjarak 500 meter dari Karang Unarang. Terjadi beberapa kali benturan. "Gesekan itu terjadi sampai tiga kali," jelas Soeparno yang lebih senang menyebut tabrakan tersebut sebagai gesekan.

Laksamana TNI-AL berbintang satu itu menambahkan, meski telah terjadi tiga kali gesekan, tak ada kontak komunikasi antara kedua kapal tersebut. KDM Rencong berhasil diusir setelah dua kapal perang TNI-AL lainnya datang membantu. "Sejak itu hingga hari ini (kemarin sore, Red), tak satu pun kapal Malaysia berada di sekitar Karang Unarang," ujarnya.

Secara fisik, menurut dia, KRI Tedung Naga tidak mengalami kerusakan. Hanya, cat di lambung kanan kapal sedikit lecet. Sedangkan mengenai kondisi KDM Rencong, dia tak mengetahui pasti apakah rusak atau tidak.

Saat ditanya wartawan, apa yang akan dilakukan jika terjadi insiden serupa, Soeparno mengatakan bahwa KRI akan lebih keras. "Kalau pakai cara halus nggak bisa, ya lebih keras," tandasnya.

Ketika ditanyakan kembali apakah aksi manuver Malaysia itu memang sengaja atau tidak, Soeparno mengaku tak bisa menduga. Menurut dia, begitu terjadi gesekan dan pengusiran dari KRI, kapal perang Malaysia itu langsung pergi. "Pengamanan selanjutnya, TNI-AL tetap akan menyiagakan beberapa KRI di Karang Unarang," tuturnya.


Malaysia Sengaja Menabrak

Bagaimana sebenarnya kejadian itu? Komandan KRI Tedung Naga Kapten Laut (P) Nurlan yang diwawancarai secara terpisah mengindikasikan, manuver KDM Rencong itu dilakukan secara sengaja. Ketika terjadi gesekan, kata Nurlan, anak buahnya diperintahkan untuk masuk ke KRI dan selalu siap tempur serta siaga. Artinya, setiap ABK KRI diawaki senjata yang terisi lengkap amunisi.

"Mereka saya siapkan untuk siaga dan siap tempur. Sewaktu-waktu saya perintahkan untuk tempur sudah siap semuanya. Hanya beberapa anggota yang tetap berada di luar untuk melihat situasi yang terjadi selama gesekan tersebut," katanya.

Lebih rinci dijelaskan, secara fisik gesekan yang terjadi di lambung kanan kapal itu sekitar 20 meter dari panjang keseluruhan kapal. Tetapi, yang lecet atau catnya terkelupas hanya di lambung belakang. "KDM Rencong penyok di bagian lambung," jelasnya.

Menurut Nurlan, KDM sengaja melakukan manuver hingga gesekan terjadi untuk memancing amarah TNI. "Mereka sengaja melakukan itu," ungkapnya.

Saat kejadian itu, KDM Rencong meluncur dengan kecepatan 20 knot. Sedangkan KRI hanya 6,6 knot. Karena posisi KRI Tedung Naga hanya menghalau dan terbuat dari fiberglass, jelas Nurlan, dirinya tidak mengambil action yang berlebihan.


SBY Pilih Damai

Pemerintah memilih bersikap lunak dalam menanggapi insiden Jumat pagi itu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta insiden antara KRI Tedung Naga dan KDM Rencong milik Malaysia di kawasan Ambalat itu diselesaikan secara damai.

Setelah dua KRI lain datang, kapal Malaysia melarikan diri dari kawasan tersebut. Ditanya apakah ada unsur kesengajaan dari pihak Malaysia, panglima mengelaknya. Dengan diplomatis, dia mengatakan bahwa kedua kapal tersebut sama-sama menjalankan tugasnya. "Kita pun akan menghalangi apabila mereka (Malaysia) tetap ingin masuk," tegas jenderal bintang empat ini.

Panglima TNI menyerahkan sepenuhnya penyelesaian insiden ditabraknya KRI Tedung Naga oleh KDM Rencong milik Malaysia itu kepada Presiden SBY. Dia akan melaporkan insiden itu secara detail kepada Presiden SBY, yang kemarin baru pulang dari kunjungannya selama enam hari di tiga negara, yaitu Australia, Selandia Baru, dan Timor Leste. "Sekarang tinggal penyelesaian masalahnya seperti itu dan kewenangannya ada pada pemerintah (presiden)," ungkapnya. Sebab, dia mengaku belum secara detail melaporkan insiden tabrakan itu kepada presiden.

Hingga kemarin, panglima juga mengaku belum berkomunikasi dengan Panglima Tentara Diraja Malaysia terkait insiden tabrakan kapal milik dua negara itu. "Ya, nanti kita sampaikan dululah pada pemerintah (Presiden SBY). Keberatan itu nanti kan pemerintah yang akan menyampaikan," jelas panglima.


DPR Minta Pemerintah Tegas

Anggota Komisi I DPR Djoko Susilo menyesalkan sikap lemah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap insiden penabrakan kapal TNI-AL di Ambalat. Sikap presiden yang hanya berharap tabrakan tak terjadi lagi dan tak memberikan perintah kepada TNI bertindak tegas itu membuat lemah patriotisme dan semangat juang TNI serta masyarakat dalam mempertahankan Ambalat.

"SBY harus menarik kata yang hanya harapan itu dan memerintahkan TNI bersikap lebih tegas terhadap pelanggaran kedaulatan," kata Djoko kepada koran ini kemarin.

Anggota DPR dari FPAN itu menegaskan, tabrakan kapal dan lemahnya sikap presiden merupakan perkara serius dalam rapat konsultasi Presiden SBY dengan DPR pada 15 April nanti. DPR akan menggugat kelemahan sikap SBY dalam mempertahankan kedaulatan RI itu. "Masak tak bersikap terhadap provokasi Malaysia," sesalnya.

Menurut dia, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto telah memenuhi prosedur karena melaporkan peristiwa di Ambalat itu kepada presiden. Kini, tinggal menunggu keputusan politik presiden memerintahkan TNI bertindak tegas atau menetapkan Ambalat sebagai daerah operasi militer. "Kondisi Ambalat itu mengenaskan. Tapi, tinggal menunggu sikap presiden terhadap konflik yang terjadi."

Gara-gara penabrakan kapal TNI-AL oleh kapal AL Diraja Malaysia itu, Djoko mendesak pemerintah agar segera melayangkan protes diplomatik kepada negeri jiran itu. Selanjutnya, TNI harus mengambil langkah konkret dalam mempertahankan kedaulatan RI di Ambalat. "Jika kemarin siaga tiga, ya tingkatkan siaga dua. Jika terjadi lagi, tak boleh ada toleransi. Tembak dan tenggelamkan kapal Malaysia," tegasnya.

sumber : jawapos.com

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home